Blog

Kamu Akan Mulai Walimah? Berikut Langkah yang Wajib Dipelajari

- Updated February 12, 2018

Pernikahan adalah impian dan menjadi hari yang dinanti-nanti banyak orang. Bukan hanya kamu seorang yang menunggu momen berharga ini, orang tua kamu tentu juga menantikannya

Dimulai saat hari lamaran. Kamu melewati hari yang menegangkan? Ayah ibu-mu pun juga! Jika kamu menganggap ini adalah peristiwa yang spesial dalam hidupmu, sama halnya yang dirasakan oleh ayah dan ibumu. Mereka berdua menyaksikan seluruh tahapan pendewasaanmu.

orang tua telah membawamu ke alam dunia (atas kehendak Allah) serta melakukan banyak pengorbanan ketika merawatmu. Kemudian senantiasa membersamaimu pada hari pertamamu berjalan serta mengoceh, masuk aktifitas sekolah sampai lulus dari perguruan tinggi, pertama kali kamu masuk kerja, hari-hari ketika kamu sedih dan bahagia, dan tak terkecuali hari saat kamu menemukan calon pendamping hidup.

Saat Dirimu Mantab Untuk Menikah

Sebagai orang yang akan melakukan resepsi pernikahan, normal kalau kamu menganggap bahwa acara pernikahanmu sepenuhnya milikmu seorang.

Kamu mau menyelenggarakan rangkaian acara pernikahan yang sangat kamu idamkan sejak dulu. Namum terkadang, rencana pernikahan yang kamu idamkan jauh berbeda dari rencana orang tua. Kamu pun ingin mempertahankan idealismu.

Jika demikian faktanya, sebaiknya tidak buru-buru terbawa emosi. Kendalikan keinginanmu yang besar. Kamu tak akan bisa mengabaikan kehadiran orang tua. Apapun itu, keberadaan ayah ibu dalam acara pernikahanmu tak dapat {dielakkan}. Mereka akan turut andil dalam proses pernikahan yang berkah dan berkesan.

Orang tua berperan besar dalam setiap prosesi pernikahan. Sejak acara pranikah, perencanaan prosesi pernikahan yang sesuai menurut adat maupun agama, hingga resepsi pernikahan di hari H.

Untuk mendapatkan impian pernikahan yang kamu harapkan, terlebih dulu kamu mesti memahami bahwa keterlibatan mereka itu penting. Karena, seringkali hajat pernikahan itu adalah hari yang juga ditunggu-tunggu untuk ayah dan ibu.

Bertunangan Dahulu, Langsungkan Pernikahan Kemudian

Pasti ada proses lamaran sebelum dilakukan pernikahan. Si pemuda akan datang ke rumah wanita. Laki-laki akan meminta restu dari orangtua terutama ayah si gadis untuk menikahi anaknya. Meski si pemuda boleh saja datang sendiri menemui ayah gadis pujaannya. Tapi sekekar dan sekuat apapun seorang pria, bergetar pula kakinya jika melangkah ke tempat tinggal perempuan tanpa ditemani kerabat terdekat. Karena menikah merupakan suatu hal yang besar. Ia mau meminta anak gadis orang untuk dijadikan teman hidupnya.

karena itu, menjadi tanggung jawab orang tua di pihak laki-laki untuk mendatangi ayah si wanita. Orang tua akan mensupport sekaligus mendampingi si pemuda untuk melamar si wanita. Orang tua akan memberikan dukungan moril bagi anaknya.

Dengan orang tuanya, tekad si laki-laki akan semakin kuat ke arah pintu gerbang rumah si gadis. Ayah ibupun berkeinginan mengajak keluarga yang lain seperti eyang serta kakak atau paman dan bibi si pemuda.

Mereka pun berkunjung tidak hanya bertangan kosong membawa banyak oleh-oleh. Orang tua si laki-laki akan membawa bingkisan sesuai tradisi adat yang berlaku. Mereka akan sibuk persiapkan diri untuk berkunjung ke orang tua si gadis. Jadilah lamaran sebagai momen orang tua juga, bukan hanya punya kedua calon mempelai.

Pada saat hari khitbah-an, bukan sekedar {waktu ketikalmomen} si pria meminta ijin kepada bapak si perempuan untuk menyunting anak perempuannya. Pada hari itu, juga merupakan saat spesial pertemuan dua keluarga untuk menentukan tanggal acara pernikahan.

Orang tua si perempuan umumnya menjadibertindak sebagai penyelenggara pernikahan. Meskipun juga tidak menutup opsi kalau orang tua si pemuda juga ingin acara pernikahan.

Menjelang Momen Pernikahan

Di balik berita lamaran juga terdapat segudang keruwetan yang menunggu. Mulai dari perancangan hingga prosesi pernikahan. Baik acara utama yaitu akad nikah sampai agenda turunannya yakni resepsi perkawinan.

Ketika hari pernikahan usai dipilih, akan ada banyak hal yang harus ditunaikan sebelum hari itu benar-benar datang. Ketika sang gadis sibuk dengan perkara baju pengantin, sang ibu akan membantunya memilih kain dan menyarabkan tukang jahit terbagus yang dia kenal.

Sang bunda pula yang mendampinginya menjalani bermacam-macam pemeliharaan tubuh mempelai wanita, mulai dari ujung kaki sampai ujung rambut. Sebelum hari perkawinan, sang bapak akan mengambil waktu khusus untuk berbicara bareng anak perempuannya, memberikan beberapa petuah pernikahan. Ayah dan ibu pun ikut menyusun daftar tamu undangan.

Sama halnya juga di kediaman si pemuda. Orang tua si pemuda pun tak kalah repot. Orang tuanya akan banyak bercerita nasehat pernikahan. Dengan dukungan dari sesepuh serta seluruh anggota keluarga yang lain, ayah dan ibu repot persiapkan mahar juga aksesoris lainnya.

Ayah dan bunda tengah menyiapkan diri untuk mengucapkan sepatah dua patah kata berbicara di depan keluarga si gadis di hari pernikahan nanti.

Ayah ibu, baik si perempuan atau si pria tidak merasa terbebani dengan semua rencana pernikahan ini. Sebab pernikahan ini merupakan acara mereka juga. Mereka tak akan keberatan untuk ikut berkontribusi secara finansial hanya untuk berlangsungnya hajat pernikahan.

Sampailah di Hari Pernikahan

Di hari itu, ayah ibu “melepaskan” anak mereka melanjutkan agenda hidup yang benar-benar baru, menjalani bahtera rumah tangga. Seperti hari wisuda, orang tualah yang berperan menjadi rektor di universitas keluarga. Ayah ibu menyatakan bahwa sang anak sudah pantas menjadi ayah/ibu untuk anak keturunan kelak.

Bagaimanapun acaranya, apakah kalian duduk bersanding di hadapan penghulu atau si gadis menunggu di dalam ruangan, jangan lalai mengabarkan bapak si perempuan. Sebab, ayah si gadis lah yang akan menikahkan kalian berdua di depan petugas KUA serta seluruh tamu. Kemudian panjatan doa orang tua teruntuk kalian semua.

Pada Momen Acara Pernikahan

Ente mungkin terlalu gugup menyiapkan diri guna menghadapi akad pernikahan sehingga tidak peduli lagi dengan segala persiapan perayaan. Dikala itu, ayah dan bunda lah yang mengatur kendali sebab bagi mereka, mereka lah si pemilik hajat.

Bapak dan ibu kalian berdua hendak menyandingkan kalian berdua di pelaminan. Biasanya ayah kalian akan menyampaikan kata-kata sambutan. Sedangkan ibu hendak meyakinkan bahwa tamu dijamu dengan baik.

Di waktu kamu duduk bertemu para tamu undangan, orang tuamu memastikan apabila catering yang kamu pesan mencukupi seluruh kebutuhan, fotografer yang kamu order sudah mengabadikan setiap momen pernikahan, serta souvenir telah tersuguh pada tempat penerimaan para tamu. Mereka juga yang mengawasi tatanan acara pesta pernikahan sesuai dengan agenda yang sudah direncanakan.

Selepas Momen Upacara Pernikahan

Kalian berdua kini sudah sah menjadi 2 sejoli dengan status suami istri. Mereka yang hadir karena undangan juga telah kembali ke rumah masing-masing. Tukang foto pun sudah siap untuk mencetak hasil jepretannya. Catering sudah dibereskan. Hiasan telah dibongkar. Alunan lagu pesta sudah tidak berbunyi. Hanya keluarga yang tetap bersama kalian.

Di momen acara nikahan telah selesai, mereka pun tetap saja menyempatkan diri memikirkan uang untuk bulan madu pernikahan kalian. Bahkan jauh hari ke depan, mereka masih menopang kehidupan pernikahan kalian baik materi ataupun non materi.

Masih menyangkal, pernikahan itu seringnya adalah momen orang tua? Fikir ulang lagi kecuali egomu terlalu kuat untuk tidak melibatkan ke-2 orang tua. Entah bagaimanapun juga, mereka memiliki peran besar di dalam keberlangsungan pernikahanmu.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *