Blog

Kehabisan Ide Mencari Baju Muslimah, Perhatikan Ini Dahulu

- Updated October 28, 2018

Merapatkan aurat ialah kewajiban bagi setiap orang Islam, bagi itu putra dan perempuan. Para Ahli Agama madzhab Syafi�i berpendapat bahwa aurat untuk kelompok pria yakni yang sekitar pusat dan lututnya. Sebaliknya untuk putri, sekujur badan kecuali muka dan telapak tangan.

Secara global, menggunakan segala tipe busana (melainkan pada ramuan yang dilarang) yakni diperbolehkan sementara kamu membungkus aurat. Tetapi, memakai pakaian-pakaian yang mengenakan maupun disukai bagi Nabi Muhammad Shallallahu �Alayhi wa Sallam kelihatan mendapati keistimewaan tersendiri dibandingkan pakaian konvensional.

Akan hanya, sebagian kecil kiyai berpendapat maka menggunakan busana yang dikenakan oleh Nabi semata-mata adalah tradisi lantaran bangsa Arab. Bahwa dari pendapat ini, gamis, contohnya, bukanlah termuat sunnah.

Terlepas dari pendapat tertulis, kebanyakan ustad memegang kesimpulan, sewaktu orang menggunakan pakaian �sunnah� tersebut sambil permulaan kecintaannya pada Nabi, maka ia yakin mendapatkan pahala oleh kasih sayang tersebut.

Dalam masa kali ini, yuk kami bahas tidak banyak bermacam-macam sunnah-sunnah Rasulullah dalam berpakaian tiap hari.

Peci dan �Imamah

Saat telaah pada sunnah berpakaian ini, kita berawal pada bagian kepala, gimana Rasulullah dan para sahabat.

�Dahulu (pada hari-hari di musim panas), kaum itu (Rasul dan para sahabat) bersujud pada surban, dan songkok (peci), sedang kedua tangannya pada lengan bajunya�. [HR. Al-Bukhoriy dalam Kitab Ash-Sholah: Bab As-Sujud ala Ats-Tsaub fi Syiddah Al-Harr (1/150)]

Rasulullah mengenakan imamah/sorban yang dililit di kepala. Keadaan ini memiliki dasar riwayat pada teman �Amr bin Harits -semoga Allah meridhoinya- pernah menyatakan:

�Rasulullah Shallallahu�alaihi Wasallam pernah berkhutbah di hadapan orang-orang dengan memakai sorban hitam di kepalanya� (HR. Muslim 1359)

Gamis dan Jubah

Rasulullah sangat senang menggunakan gamis. Dikatakan, kisanak senang mengenakan gamis dengan dia kian menutupi bagian tubuh.

Dari Ummu Salamah -semoga Allah meridhoinya-, ia berkata,

�Pakaian yang paling disukai oleh Rasulullah shallallahu �alaihi wa sallam adalah gamis.� (HR. Tirmidzi no. 1762)

KH Mushthofa Bisri menafsirkan hadits tentang pakaian yang paling disuka oleh Nabi ini dengan pakaian daerah masing-masing (yang menutup aurat, semisal batik). Sehingga, apabila kita mengenakan batik dengan niat mengikut Nabi (yang mencintai pakaian daerahnya, yaitu gamis), maka ia akan mendapat pahala.

Lainnya gamis, Nabi juga suka mengenakan pakaian baju tambahan (jubah). Terdapat tidak banyak hikayat yang mengartikan mengenai hal ini, namun saya mengambil satu saja.

Dari Abu Rimtsah Rifaah At-Taymiy -semoga Allah meridhoinya-: �Saya pernah melihat Rasulullah memakai dua baju yang hijau�. (HR Tirmidzi dan Abu Daud)

�Dua baju� yang dimaksud pada hadits ini adalah baju dalam (gamis) serta baju luar (jubah). Contohnya bisa lihat pada gambar di bawah.

Sarung

Sarung (izaar) telah ada dan banyak dipakai semenjak era Nabi. Pada awalnya, sarung yang tampak pada zaman tersebut kurang makin sama dengan apa pun yang tersedia di masa saat ini.

Tetapi, saat era jahiliyyah, sedikit penduduk berencana menambah kain sarung atau gamisnya hingga melewati mata kaki untuk menunjukkan bahwa dia adalah orang mampu alias berniat melagakkan dirinya.

Tentu, Rasulullah Shallallahu �Alayhi wa Sallam lalu mencegah untuk membentangkan kain sarung/gamis melampaui mata kaki.

Diriwayatkan dari �Abdullah bin �Umar -semoga Allah meridhoi keduanya-, ia berkata: �Rasulullah Shalallahu �alaihi wa sallam bersabda:

�Barangsiapa menjulurkan pakaiannya karena sombong maka Allah tidak akan melihatnya di hari Kiamat kelak.��

Dari Abu Hurairah -semoga ALlah meridhoinya- dari Nabi Shalallahu �alaihi wa sallam: �Kain sarung yang berada di bawah mata kaki tempatnya di Neraka.�

Ulama bergagasan dari hadits ini, bahwasannya tabu hukumnya menjulurkan kain celana/sarung/gamis melewati mata kaki demi bermaksud bangga. Akan halnya andaikan enggak mempunyai tujuan tinggi hati, kemudian ulama berlainan argumen, setengah bergagasan makruh, sedang yang lainnya berpendapat mubah.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *