Blog

Proses Perkawinan yang Ditunggu-Tunggu Oleh Banyak Orang

- Updated January 18, 2019

Pernikahan memang menjadi impian serta menjadi waktu yang dinantikan semua orang. Tidak cuma dirimu seindiri yang menanti-nantikan momen sakral ini, akan tetapi orang tuamu juga!

Ketika hari lamaran. Kamu melewati masa-masa yang menegangkan? Ayah ibu-mu juga merasakannya! Jika dirimu menganggap ini adalah momen yang spesial dalam kehidupan kamu, demikian pula yang dirasakan oleh ayah dan ibumu. Orang tua berdua sangat memahami semua capaian pendewasaanmu.

orang tua telah menuntunmu ke dunia (atas izin Allah) serta melakukan banyak pengorbanan membesarkanmu. Yang selalu membersamaimu di hari pertamamu belajar jalan dan bicara, masuk kegiatan sekolah hingga lulus dari perguruan tinggi, pertama kali kamu masuk kerja, saat-saat kamu susah dan senang, juga tak terkecuali hari ketika kamu menemukan calon pasangan hidup.

Saat Dirimu Memutuskan Untuk Menikah

Sebagai orang yang akan melakukan resepsi pernikahan, normal kalau kamu merasa bahwa pesta pernikahanmu sepenuhnya milikmu sendiri.

Kamu mau menggelar susunan resepsi pernikahan yang sudah kamu idamkan sejak lama. Tapi kadang kali, rencana pernikahan yang kamu impikan jauh berbeda dari rencana orang tua. Kamu merasa ingin mempertahankan apa yang kamu yakini.

Kalau memang seperti ini kenyataannya, sebaiknya tidak jengkel dan naik amarah. Kontrol egomu yang besar. Kamu tidak mampu mengabaikan kehadiran orang tua. Bagaimanapun juga, keberadaan ayah ibu saat acara pernikahanmu tak dapat {dielakkan}. Orang tua akan ikut andil dalam resepsi pernikahan yang lancar dan syahdu.

Orang tua berperan penting dalam setiap prosesi pernikahan. Mulai dari agenda pranikah, persiapan upacara pernikahan yang bagus dari segi adat maupun agama, sampai resepsi pernikahan di hari H.

Untuk mendapatkan impian pernikahan yang kamu idamkan, terlebih dulu kamu mesti memahami bahwa keberadaan ayah dan ibu sangat penting. Karena, tidak jarang acara pernikahan itu juga merupakan hari yang juga dinantikan untuk mereka.

Mempersunting Dahulu, Langsungkan Pernikahan Kemudian

Pasti ada acara lamaran sebelum dilakukan pernikahan. Si pemuda akan datang ke rumah perempuan. Si pemuda akan meminta ijin kepada bapak wanita untuk menikahi anaknya. Meski si pemuda bisa saja datang sendiri menemui bapak gadis yang disukainya. Tapi sehebat dan segagah apapun seorang laki-laki, bergetar pula kakinya jika melangkah ke rumah wanita tanpa ditemani orang-orang terdekat. Sebab menikah merupakan perkara besar. Ia hendak meminta anak perempuan orang untuk menjadi teman perjuangannya.

karena itu, menjadi tanggung jawab orang tua di pihak pria untuk mendatangi bapak si perempuan. Mereka akan mensupport sekaligus mendampingi si pemuda untuk meminang si perempuan. Mereka akan memberikan dukungan moril bagi anak laki-lakinya.

Dengan orang tuanya, keyakinan si pria akan semakin kuat menuju pintu gerbang rumah si gadis. Orang tuapun mengabarkan yang lain dan mengajak keluarga yang lain seperti adik dan sepupu atau paman juga bibi si laki-laki.

Mereka akan datang tidak dengan bertangan hampa membawa banyak bingkisan. Ayah ibu si pemuda akan membawa seserahan sesuai tradisi adat yang berlaku. Mereka akan sibuk persiapkan diri demi bertamu ke orang tua si gadis. Maka pertunangan merupakan momen keluarga juga, tidak hanya punya kedua calon mempelai.

Pada waktu hari lamaran, tidak sekedar {waktu ketikalmomen} si pemuda memohon ijin kepada bapak si perempuan untuk menyunting anak perempuannya. Pada hari itu, juga merupakan saat spesial pertemuan dua keluarga untuk menyepakati tanggal resepsi pernikahan.

Keluarga si gadis biasanya jadi penyelenggara pernikahan. Walau juga tidak menutup kemungkinan jika keluarga si laki-laki yang acara pernikahan.

Mendekati Momen Pernikahan

Di balik berita lamaran juga ada setumpuk kesibukan yang menunggu. Mulai dari perencanaan sampai pelaksanaan pernikahan. Mulai dari agenda inti yakni akad nikah sampai kegiatan turunannya yaitu seremonial pernikahan.

Tatkala hari perkawinan sudah diputuskan, akan ada banyak hal yang harus dikerjakan sebelum tanggal itu benar-benar datang. Ketika sang anak perempuan repot dengan urusan pakaian pengantin, si ibu akan membantunya memilih kain dan mengusulkan tukang jahit paling bagus yang ia katahui.

Sang ibu juga yang mendampinginya mengerjakan berbagai macam pemeliharaan tubuh mempelai wanita, mulai dari ujung kaki sampai ujung kepala. Sebelum hari H si ayah akan memilih waktu khusus untuk ngobrol bersama anak gadisnya, memberikan beberapa petuah pernikahan. Ayah dan ibu pun ikut membuat list tamu undangan.

Begitu halnya juga di rumah si pemuda. Orang tua si pemuda juga tak kalah sibuk. Ayah dan ibunya akan sering memberikan nasehat pernikahan. Dengan support oleh sesepuh serta semua anggota keluarga yang lain, orang tua repot sediakan mahar juga aksesoris lainnya.

Mereka tengah memantapkan diri untuk menyampaikan materi berbicara di depan keluarga si wanita pada saat pernikahan yang akan datang.

Ayah ibu, baik si gadis maupun si laki-laki tak merasa payah dengan semua rencana pernikahan ini. Sebab pernikahan ini merupakan acara mereka juga. Mereka tak akan keberatan ikut berkontribusi secara keuangan hanya untuk berlangsungnya hajat pernikahan.

Sampailah Pada Hari Pernikahan

Pada hari itu, orang tua “meresmikan” anak-anak melanjutkan kehidupan yang benar-benar baru, kehidupan bahtera rumah tangga. Bagaikan hari wisuda, orang tualah yang bertindak menjadi rektor di kampus keluarga. Ayah ibu mengesahkan bahwa anak mereka telah lulus menjadi ayah/ibu bagi anak-anaknya nanti.

Bagaimanapun susunannya, apakah kalian duduk bersanding di hadapan penghulu atau si perempuan menunggu di dalam ruangan, jangan lalai memberitahukan bapak si gadis. Karena, bapak si perempuan lah yang akan menikahkan kalian berdua di hadapan petugas KUA serta semua hadirin. Lalu doa-doa ayah dan ibu melingkupi para mempelai semua.

Pada Hari Upacara Pernikahan

Kau mungkin sangat gugup mempersiapkan diri untuk menempuh akad pernikahan sehingga tidak peduli lagi dengan semua persiapan resepsi. Waktu itu, ayah dan ibu lah yang membatasi kendali karena bagi mereka, mereka lah yang punya acara.

Orang tua kalian berdua mau mempertemukan kalian berdua di atas pelaminan. Setiap ayah kalian akan memberikan kata-kata sambutan. Sementara ibu akan meyakinkan tamu undangan disambut dengan maksimal.

Di waktu kamu duduk bertemu dengan tamu undangan, orang tuamu memastikan bahwa catering yang kamu pilih bisa memenuhi seluruh kebutuhan, fotografer yang kamu pesan telah merekam keseluruhan momen pernikahan, tidak lupa souvenir sudah ada pada meja penerimaan para tamu. Mereka juga yang memantau tatanan acara pesta pernikahan sesuai dengan agenda yang sudah direncanakan.

Selepas Hari Acara Pernikahan

Kalian berdua kini sudah sah menjadi sepasang suami istri. Mereka yang hadir karena undangan juga sudah kembali ke rumah masing-masing. Fotografer juga sudah siap untuk mencetak hasil tugasnya. Catering sudah dikembalikan. Hiasan telah dibongkar. Alunan lagu acara sudah dihentikan. Hanya orang tua yang selalu menemani kalian.

Di momen perayaan pernikahan yang sudah selesai, mereka pun tetap menyempatkan waktu mereka memikirkan uang untuk kalian yang akan berbulan madu. Bahkan hari-hari berikutnya, mereka tetap menopang keberlangsungan pernikahan kalian dengan moril ataupun finansial.

Sebagai renungan, acara pernikahan itu biasanya adalah momen orang tua? Fikir lagi jika rasa egoismu begitu besar dengan tidak mengikutsertakan kedua orang tua. Bagaimanapun juga, mereka memiliki peran penting di dalam kehidupan pernikahanmu kedepannya.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *