Blog

Proses Perkawinan yang Ditunggu-Tunggu Oleh Banyak Orang

- Updated May 29, 2018

Pernikahan adalah salah satu tujuan hidup dan menjadi waktu yang dinanti-nanti oleh semua orang. Tidak cuma kamu seindiri yang menunggu momen spesial ini, tetapi ayah ibu kamu juga!

Dimulai ketika hari pertunangan. Dirimu melalui masa-masa yang menegangkan? Orang tua-mu juga merasakannya! Kalau dirimu menganggap ini adalah peristiwa yang spesial dalam hidupmu, demikian halnya yang dirasakan oleh ayah dan ibumu. Orang tua berdua menyaksikan seluruh tahapan pendewasaanmu.

orang tua telah menuntunmu ke dunia (atas izin Allah) dan melakukan banyak pengorbanan ketika merawatmu. Kemudian senantiasa menemani mulai dari hari pertamamu belajar jalan dan bicara, masuk aktifitas sekolah hingga lulus dari universitas, saat pertama kamu masuk kerja, hari-hari ketika kamu susah dan bahagia, juga termasuk hari ketika kamu menemukan calon pendamping hidup.

Saat Kamu Mantab Untuk Menikah

Sebagai orang yang menjalani resepsi pernikahan, normal jika kamu merasa bahwa pesta pernikahanmu mutlak milikmu seorang.

Kamu mau menyelenggarakan susunan resepsi pernikahan yang sangat kamu inginkan sejak lama. Tapi terkadang, rencana pernikahan yang kamu inginkan jauh berbeda dari rencana orang tua. Kamu pun ingin tetap dengan apa yang kamu yakini.

Kalau memang seperti ini kenyataannya, baiknya jangan jengkel dan naik amarah. Kendalikan keinginanmu yang berlebih. Kamu tak akan mampu mengabaikan keberadaan orang tua. Bagaimanapun juga, peran ayah ibu dalam hari pernikahanmu tidak mungkin {dielakkan}. Orang tua akan turut andil saat proses pernikahan yang lancar dan syahdu.

Orang tua mempunyai peran yang besar pada setiap acara pernikahan. Sejak acara pranikah, persiapan upacara pernikahan yang bagus dari segi adat maupun agama, hingga acara pernikahan di hari H.

Untuk mencapai impian pernikahan yang kamu harapkan, terlebih dulu kamu harus memahami bahwa keterlibatan mereka sangat penting. Karena, tidak jarang acara pernikahan itu adalah hari yang juga ditunggu-tunggu untuk ayah dan ibu.

Mempersunting Dahulu, Langsungkan Pernikahan Kemudian

Tentu ada proses khitbah sebelum dilakukan pernikahan. Laki-laki akan mendatangi rumah wanita. Pria akan meminta restu dari ayah si gadis untuk menikahi putrinya. Sebenarnya si pemuda boleh saja hadir sendiri menjumpai ayah gadis yang disukainya. Tapi sehebat dan sekuat apapun seorang pria, gemetar pula kakinya kalau melangkah menuju tempat tinggal wanita tanpa ditemani orang-orang terdekat. Karena menikah adalah suatu hal yang besar. Ia hendak meminta anak gadis orang untuk menjadi teman hidupnya.

sebab itu, menjadi kewajiban orang tua dari pihak si pemuda untuk menjumpai ayah si gadis. Ayah dan ibu akan mensupport sekaligus mendampingi si pemuda untuk meminang si gadis. Mereka akan memberikan dukungan moril bagi si pemuda.

Dengan ayah ibunya, tekad si laki-laki akan semakin mantap ke arah pintu gerbang rumah si wanita. Ayah ibupun mengabarkan yang lain dan mengajak sanak saudara yang lain seperti adik dan kakak atau paman juga bibi si pemuda.

Mereka pun datang tidak hanya bertangan hampa membawa banyak seserahan. Orang tua si pemuda akan membawa hantaran menyesuaikan tradisi adatnya. Mereka akan sibuk persiapkan diri untuk bertamu dengan orang tua si perempuan. Jadilah khitbah merupakan momen keluarga juga, tidak hanya milik calon kedua mempelai.

Pada saat hari khitbah-an, bukan hanya {waktu ketikalmomen} si pria memohon restu ke bapak si wanita untuk melamar anak perempuannya. Pada hari itu, juga merupakan saat spesial pertemuan dua keluarga untuk menentukan kapan dilangsungkannya pesta pernikahan.

Orang tua si gadis umumnya jadi penyelenggara pernikahan. Meski juga tidak menutup opsi kalau orang tua si pemuda yang resepsi pernikahan.

Menjelang Hari Pernikahan

Di balik kabar lamaran juga terdapat setumpuk keruwetan yang menanti. Mulai dari perancangan hingga prosesi pernikahan. Baik kegiatan inti yaitu akad nikah maupun acara tambahannya yakni seremonial pernikahan.

Ketika tanggal perkawinan telah dipilih, akan muncul banyak hal yang harus dilakukan sebelum tanggal itu benar-benar datang. Ketika si gadis sibuk dengan urusan baju pengantin, si bunda akan membantunya memilih kain dan menyarabkan penjahit terbagus yang ia kenal.

Si ibu pula yang mendampinginya melakukan berbagai pemeliharaan tubuh mempelai wanita, sedari ujung kuku sampai ujung rambut. Sebelum hari pernikahan, sang bapak akan memilih waktu tertentu untuk berbincang bareng anak gadisnya, menyampaikan beberapa pesan pernikahan. Ayah dan ibu pun turut menyusun daftar tamu undangan.

Sama halnya juga di rumah si pria. Keluarga besar si pemuda juga tidak kalah sibuk. Orang tuanya akan banyak bercerita petuah pernikahan. Dengan support oleh tetua dan seluruh anggota keluarga lainnya, orang tua repot menyiapkan mahar juga perlengkapan lainnya.

Ayah dan bunda tengah memantapkan diri untuk mengucapkan sepatah dua patah kata pidato di depan keluarga si wanita pada hari pernikahan yang akan datang.

Ayah ibu, baik si perempuan maupun si laki-laki tidak merasa keberatan dengan semua persiapan pernikahan ini. Karena pernikahan ini adalah pesta mereka juga. Mereka tak akan keberatan ikut berkontribusi secara keuangan demi berlangsungnya pesta pernikahan.

Sampailah di Momen Pernikahan

Pada hari pernikahan, ayah ibu “melepaskan” anak-anak melanjutkan agenda hidup yang baru, kehidupan bahtera rumah tangga. Bagaikan hari wisuda, ayah ibulah yang berperan menjadi rektor di kampus keluarga. Orang tua menyatakan bahwa sang anak telah pantas menjadi ayah/ibu untuk anak keturunan kelak.

Seperti apapun susunannya, apakah kalian duduk bersanding di hadapan petugas KUA atau si gadis menunggu di ruangan terpisah, jangan lalai mengabarkan bapak si wanita. Karena, bapak si gadis lah yang akan menikahkan kalian berdua di hadapan penghulu serta seluruh tamu undangan. Kemudian panjatan doa orang tua teruntuk kalian semua.

Pada Hari Acara Pernikahan

Ente barangkali sangat gugup mempersiapkan diri dalam menempuh akad perkawinan sehingga tidak peduli lagi dengan segala persiapan resepsi. Ketika itu, ayah dan bunda lah yang mengendalikan kendali sebab bagi mereka, mereka lah si pemilik acara.

Ayah dan ibu kalian berdua bakal menyatukan kalian berdua di atas pelaminan. Masing-masing ayah kalian akan memberikan kata sambutan. Sementara ibu hendak meyakinkan bahwa undangan dijamu dengan sepatutnya.

Saat kamu duduk menemui dengan para tamu undangan, orang tuamu memastikan bahwa catering yang kamu order bisa menggenapi keperluan, fotografer yang kamu order sudah mendokumentasikan keseluruhan momen pernikahan, tidak lupa souvenir sudah tersuguh di tempat penerimaan tamu. Mereka pula yang mengontrol tatanan acara pesta pernikahan sesuai dengan agenda yang sudah direncanakan.

Selepas Hari Pesta Pernikahan

Kalian berdua kini telah sah menjadi 2 sejoli dengan status suami istri. Tamu undangan juga telah pulang. Tukang foto pun sudah siap untuk mencetak hasil tugasnya. Catering akan segera dibereskan. Hiasan akan segera dibongkar. Alunan lagu pesta sudah dihentikan. Kini tinggal ayah ibu yang setia menemani kalian.

Ketika pesta pernikahan sudah selesai, mereka pun tetap saja meluangkan waktu menghitung-hitung uang untuk bulan madu kalian. Malahan hari-hari berikutnya, mereka terus berusaha membantu kehidupan pernikahan kalian baik secara moril maupun secara finansial.

Sebagai bahan renungan, pernikahan anak itu biasanya merupakan momennya orang tua? Pikir ulang kembali kalau memang egomu sangat besar untuk tidak mengikutsertakan ke-2 orang tua. Walau Apapun juga, mereka tetap ada peran besar di dalam keberlangsungan pernikahanmu.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *