Blog

Sejarah Pakaian Islam Dari Zaman Dulu

- Updated February 12, 2018

Menyembunyikan aurat ialah komitmen untuk setiap orang Islam, baik itu pria dan wanita. Para ulama madzhab Syafi�i bergagasan bahwa aurat bagi kelompok putra yakni yang diantara pusat dan dengkul. Sedangkan untuk wanita, semua tubuh selain wajah dan telapak tangan.

Secara terbuka, memakai semua tipe pakaian (kecuali dari bahan-bahan yang diharamkan) adalah diperbolehkan sewaktu-waktu dia membungkus aurat. Tapi, mengenakan pakaian-pakaian yang mengenakan atau menyukai oleh Nabi Muhammad Shallallahu �Alayhi wa Sallam nyata mendapati keutamaan sendiri dibandingkan busana biasa.

Akan hanya, beberapa kecil ulama berpendapat maka menggunakan busana yang digunakan oleh Nabi hanya merupakan kebiasaan lantaran negara Arab. Maka pada saran ini, baju, sekiranya, bukanlah termasuk sunnah.

Terlepas mengenai gagasan terkandung, kebanyakan ustad memegang kesimpulan, seumpama orang memakai baju �sunnah� tertulis sambil permulaan kasih sayang pada Nabi, lalu kamu yakin mendapatkan pahala oleh sayang tersebut.

Pada masa kali ini, yuk saya periksa singkat betapa sunnah-sunnah Rasulullah dalam berpakaian sehari-hari.

Peci dan �Imamah

Dalam ulasan saat sunnah berpakaian ini, kita berawal berawal anggota kepala, betapa Rasulullah dan para sahabat.

�Dahulu (pada hari-hari di musim panas), kaum itu (Rasul dan para sahabat) bersujud pada surban, dan songkok (peci), sedang kedua tangannya pada lengan bajunya�. [HR. Al-Bukhoriy dalam Kitab Ash-Sholah: Bab As-Sujud ala Ats-Tsaub fi Syiddah Al-Harr (1/150)]

Rasulullah menggunakan imamah/sorban yang dililit di kepala. Kejadian ini berdasarkan kejadian oleh saudara �Amr bin Harits -semoga Allah meridhoinya- pernah menyatakan:

�Rasulullah Shallallahu�alaihi Wasallam pernah berkhutbah di hadapan orang-orang dengan memakai sorban hitam di kepalanya� (HR. Muslim 1359)

Gamis dan Jubah

Rasulullah sangat demen mengenakan gamis. Dikatakan, dia suka menggunakan gamis dengan dia lebih menutup semua tubuh.

Dari Ummu Salamah -semoga Allah meridhoinya-, ia berkata,

�Pakaian yang paling disukai oleh Rasulullah shallallahu �alaihi wa sallam adalah gamis.� (HR. Tirmidzi no. 1762)

KH Mushthofa Bisri menafsirkan hadits tentang pakaian yang paling disuka oleh Nabi ini dengan pakaian daerah masing-masing (yang menutup aurat, semisal batik). Sehingga, apabila kita mengenakan batik dengan niat mengikut Nabi (yang mencintai pakaian daerahnya, yaitu gamis), maka ia akan mendapat pahala.

Lainnya gamis, Nabi lumayan suka menggunakan baju baju tambahan (jubah). Terdapat tidak banyak kisah yang menegaskan mengenai kejadian ini, namun kamu kutip satu saja.

Dari Abu Rimtsah Rifaah At-Taymiy -semoga Allah meridhoinya-: �Saya pernah melihat Rasulullah memakai dua baju yang hijau�. (HR Tirmidzi dan Abu Daud)

�Dua baju� yang dimaksud pada hadits ini adalah baju dalam (gamis) serta baju luar (jubah). Contohnya bisa lihat pada gambar di bawah.

Sarung

Sarung (izaar) tersedia tampak dan banyak digunakan semenjak zaman Nabi. Pada awalnya, sarung yang ada pada masa tertulis sedikit makin sebanding atas apa pun yang ada di masa saat ini.

Tetapi, pada saat zaman jahiliyyah, sebagian penduduk terencana memanjangkan kain sarung atau gamisnya mencapai melewati mata kaki demi menampakkan bahwa kamu adalah manusia mampu alias ingin menyombongkan dirinya.

Tentu, Rasulullah Shallallahu �Alayhi wa Sallam akhirnya mengharamkan untuk menjulurkan kain sarung/gamis melampaui mata kaki.

Diriwayatkan dari �Abdullah bin �Umar -semoga Allah meridhoi keduanya-, ia berkata: �Rasulullah Shalallahu �alaihi wa sallam bersabda:

�Barangsiapa menjulurkan pakaiannya karena sombong maka Allah tidak akan melihatnya di hari Kiamat kelak.��

Dari Abu Hurairah -semoga ALlah meridhoinya- dari Nabi Shalallahu �alaihi wa sallam: �Kain sarung yang berada di bawah mata kaki tempatnya di Neraka.�

Ulama berpendapat oleh hadits ini, bahwasannya tabu hukumnya memanjangkan kain celana/sarung/gamis melampaui mata kaki atas berencana sok. Adapun apabila enggak memiliki maksud sok, maka ustad berlainan argumen, sebagian beroponi makruh, sedang yang lainnya bergagasan mubah.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *