Blog

Sejarah Pakaian Islam Sejak Zaman Nabi

- Updated May 29, 2018

Menutup aurat ialah komitmen untuk setiap orang Islam, bagi itu laki-laki maupun perempuan. Beberapa Ahli Agama madzhab Syafi�i berpendapat maka aurat para kaum putra ialah yang sekitar puser dan lututnya. Sebaliknya para putri, semua tubuh selain muka dan telapak tangan.

Secara terbuka, mengenakan semua macam-macam baju (melainkan pada resep yang dilarang) adalah diperbolehkan sewaktu-waktu kamu membungkus aurat. Namun, mengenakan pakaian-pakaian yang dipakai ataupun disukai dari Nabi Muhammad Shallallahu �Alayhi wa Sallam ternyata mendapati keunggulan sendiri dibanding busana biasa.

Akan tapi, beberapa kecil kiyai menyarankan bahwa memakai busana yang dikenakan oleh Nabi hanya ialah tradisi lantaran keturunan Arab. Bahwa berawal dari pendapat ini, baju, misalnya, bukanlah termasuk sunnah.

Terlepas dari tanggapan terkandung, sebagian besar ustad tetap kesimpulan, seumpama manusia memakai pakaian �sunnah� tersebut sambil dasar kasih sayang kepada Nabi, hingga ia tentu meraih balasan atas sayang tersebut.

Saat peluang kali ini, mari kita bahas sedikit betapa sunnah-sunnah Rasulullah di dalam busana tiap hari.

Peci dan �Imamah

Pada ulasan saat sunnah memakai baju ini, kita mulai pada bagian atasan, betapa Rasulullah dan para sahabat.

�Dahulu (pada hari-hari di musim panas), kaum itu (Rasul dan para sahabat) bersujud pada surban, dan songkok (peci), sedang kedua tangannya pada lengan bajunya�. [HR. Al-Bukhoriy dalam Kitab Ash-Sholah: Bab As-Sujud ala Ats-Tsaub fi Syiddah Al-Harr (1/150)]

Rasulullah menggunakan imamah/sorban yang dililit di kepala. Keadaan ini menurut riwayat pada sahabat �Amr bin Harits -semoga Allah meridhoinya- pernah menyatakan:

�Rasulullah Shallallahu�alaihi Wasallam pernah berkhutbah di hadapan orang-orang dengan memakai sorban hitam di kepalanya� (HR. Muslim 1359)

Gamis dan Jubah

Rasulullah sangat suka mengenakan gamis. Dikatakan, dia senang menggunakan gamis karena ia makin membalut bagian badan.

Dari Ummu Salamah -semoga Allah meridhoinya-, ia berkata,

�Pakaian yang paling disukai oleh Rasulullah shallallahu �alaihi wa sallam adalah gamis.� (HR. Tirmidzi no. 1762)

KH Mushthofa Bisri menafsirkan hadits tentang pakaian yang paling disuka oleh Nabi ini dengan pakaian daerah masing-masing (yang menutup aurat, semisal batik). Sehingga, apabila kita mengenakan batik dengan niat mengikut Nabi (yang mencintai pakaian daerahnya, yaitu gamis), maka ia akan mendapat pahala.

gamis, Nabi pun suka menggunakan pakaian luar (jubah). Terdapat tidak banyak riwayat yang mengartikan mengenai kejadian ini, tapi saya mengambil satu saja.

Dari Abu Rimtsah Rifaah At-Taymiy -semoga Allah meridhoinya-: �Saya pernah melihat Rasulullah memakai dua baju yang hijau�. (HR Tirmidzi dan Abu Daud)

�Dua baju� yang dimaksud pada hadits ini adalah baju dalam (gamis) serta baju luar (jubah). Contohnya bisa lihat pada gambar di bawah.

Sarung

Sarung (izaar) sudah pernah muncul dan berjibun dipakai semenjak era Nabi. Pada hakitnya, sarung yang ada pada era tertulis tidak sampai banyak setara menggunakan apa pun yang tampak di masa masa ini.

Hanya saja, pada saat era jahiliyyah, sedikit penduduk berencana memanjangkan kain sarung atau gamisnya mencapai melampaui mata kaki demi menerangkan bahwa kamu adalah manusia mampu atau mau membanggakan dirinya.

Tentu, Rasulullah Shallallahu �Alayhi wa Sallam akhirnya mencegah untuk membentangkan kain sarung/gamis melampaui mata kaki.

Diriwayatkan dari �Abdullah bin �Umar -semoga Allah meridhoi keduanya-, ia berkata: �Rasulullah Shalallahu �alaihi wa sallam bersabda:

�Barangsiapa menjulurkan pakaiannya karena sombong maka Allah tidak akan melihatnya di hari Kiamat kelak.��

Dari Abu Hurairah -semoga ALlah meridhoinya- dari Nabi Shalallahu �alaihi wa sallam: �Kain sarung yang berada di bawah mata kaki tempatnya di Neraka.�

Ulama bergagasan oleh hadits ini, bahwasannya tabu hukumnya memanjangkan kain celana/sarung/gamis melewati mata kaki dengan bermaksud sombong. Adapun andaikata tidak ada keingginan tinggi hati, maka syaikh berbeda argumen, sebagian bergagasan makruh, sedang yang berbeda bergagasan mubah.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *