Blog

Waktu Pernikahan yang Ditunggu-Tunggu Oleh Orang-Orang

- Updated October 28, 2018

Pernikahan memang menjadi salah satu tujuan hidup serta menjadi waktu yang ditunggu-tunggu banyak orang. Tidak hanya kamu seorang yang menantikan momen sakral ini, ayah-ibu kamu tentu juga mengharapkannya

Dimulai saat hari pertunangan. Dirimu melalui masa-masa yang mendebarkan? Ayah ibu-mu juga demikian! Kalau kamu merasa ini merupakan momen yang berkesan di kehidupan kamu, sama pula yang dirasakan oleh ayah dan ibumu. Orang tua berdua menyaksikan semua tahapan dalam hidupmu.

orang tua telah menuntunmu ke alam dunia (atas izin Allah) serta bersusah payah membesarkanmu. Yang senantiasa membersamaimu mulai dari hari pertamamu berjalan dan bicara, mengikuti kegiatan sekolah sampai lulus dari universitas, saat pertama kamu masuk kerja, hari-hari ketika kamu sedih dan senang, dan termasuk hari saat kamu dipertemukan dengan calon pasangan hidup.

Saat Kamu Mantab Untuk Menikah

Sebagai orang yang akan melakukan resepsi pernikahan, wajar kalau kamu merasa bahwa resepsi pernikahanmu sepenuhnya milikmu seorang.

Kamu mau menggelar rangkaian resepsi pernikahan yang sudah kamu idamkan sejak lama. Namum terkadang, konsep pernikahan yang kamu inginkan sangat berbeda dari keinginan orang tua. Kamu pun ingin tetap dengan idealismu.

Jika seperti ini faktanya, baiknya tidak jengkel dan terbawa emosi. Kendalikan keinginanmu yang berlebih. Kamu tak akan bisa mengabaikan keberadaan ayah dan ibu. Apapun itu, peran ayah ibu dalam resepsi pernikahanmu tak mungkin {dielakkan}. Orang tua akan turut andil dalam acara pernikahan yang lancar dan berkesan.

Ayah dan ibu berperan penting dalam setiap acara pernikahan. Sejak agenda pranikah, perencanaan prosesi pernikahan yang bagus dari segi adat maupun agama, sampai acara pernikahan itu sendiri.

Untuk mendapatkan cita-cita pernikahan yang kamu harapkan, terlebih dulu kamu mesti mengerti bahwa keberadaan orang tua sangat penting. Karena, tidak jarang hajat pernikahan itu juga merupakan hari yang juga ditunggu-tunggu untuk orang tua.

Bertunangan Dahulu, Jalankan Pernikahan Kemudian

Tentu ada proses khitbah sebelum adanya pernikahan. Laki-laki akan datang ke rumah si gadis. Ia akan meminta restu kepada bapak perempuan untuk menikahi anaknya. Sebenarnya seorang pria bisa saja hadir sendiri menemui ayah gadis yang disukainya. Tapi sehebat dan segagah apapun seorang pria, bergetar juga kakinya jika datang ke tempat tinggal wanita tanpa didampingi orang-orang terdekat. Sebab menikah adalah perkara besar. Ia hendak meminta anak perempuan orang untuk menjadi teman hidupnya.

sebab itu, menjadi kewajiban orang tua di pihak si pemuda untuk menemui ayah si gadis. Mereka akan mengantar sekaligus mendampingi anaknya untuk melamar si perempuan. Mereka akan memberikan dukungan moril bagi anaknya.

Bersama orang tuanya, keyakinan si laki-laki akan semakin kuat menuju pintu gerbang rumah si wanita. Ayah ibupun berinisiatif mengajak keluarga yang lain seperti adik serta kakak atau paman juga bibi si pemuda.

Mereka akan datang tidak dengan bertangan kosong membawa banyak hantaran. Orang tua si pria akan membawa bingkisan menyesuaikan tradisi adatnya. Keluarga besar akan sibuk menyiapkan diri demi berkunjung dengan orang tua si wanita. Jadilah khitbah merupakan momen keluarga juga, bukan hanya punya calon kedua mempelai.

Pada waktu hari khitbah-an, tidak sekedar {waktu ketikalmomen} si pemuda meminta ijin pada ayah si wanita untuk menyunting putrinya. Saat itu, juga merupakan saat spesial pertemuan dua keluarga untuk menyepakati hari acara pernikahan.

Keluarga si gadis umumnya jadi tuan rumah pernikahan. Meskipun juga tak menutup opsi jika pihak si pemuda juga ingin acara pernikahan.

Mendekati Momen Pernikahan

Di balik berita lamaran juga terselip segudang keruwetan yang menunggu. Sedari perancangan sampai kegiatan pernikahan. Baik acara utama yakni akad nikah ataupun acara turunannya yaitu pesta perkawinan.

Ketika tanggal perkawinan sudah ditentukan, akan ada banyak hal yang musti dikerjakan sebelum tanggal itu benar-benar datang. Ketika si calon wanita repot dengan perkara baju pengantin, sang bunda akan membantunya memilih kain dan merekomendasikan penjahit terbagus yang ia katahui.

Si bunda pula yang menemaninya mengerjakan berbagai pemeliharaan tubuh mempelai wanita, sedari ujung kuku hingga ujung rambut. Sebelum hari H sang ayah akan memilih waktu khusus untuk ngobrol bersama anak gadisnya, mengutarakan beberapa nasehat pernikahan. Ayah dan ibu pun turut menyusun daftar tamu undangan.

Begitu halnya juga di rumah si laki-laki. Orang tua si pemuda juga tak kalah sibuk. Ayah dan ibunya akan banyak bercerita petuah pernikahan. Dengan support oleh tetua dan semua anggota keluarga lainnya, orang tua repot sediakan mahar beserta perlengkapan lainnya.

Mereka sedang memantapkan diri untuk mengucapkan materi berbicara di depan keluarga si perempuan di saat pernikahan nanti.

Orang tua, baik si gadis atau si pria tidak merasa payah dengan segala rencana pernikahan ini. Karena pernikahan ini adalah hajat mereka juga. Mereka tidak keberatan untuk ikut berkontribusi secara keuangan demi berlangsungnya acara pernikahan.

Tiba di Hari Pernikahan

Pada hari itu, orang tua “melepaskan” anak mereka melanjutkan kehidupan yang benar-benar baru, menjalani bahtera rumah tangga. Ibarat hari wisuda, ayah ibulah yang berperan seperti rektor di universitas keluarga. Mereka mengesahkan bahwa sang anak telah pantas menjadi orang tua bagi anak-anaknya kelak.

Bagaimanapun susunannya, apakah kalian duduk bersanding di depan petugas KUA atau si wanita menanti di ruangan terpisah, jangan lupa memberitahukan bapak si gadis. Sebab, bapak si wanita lah yang akan menikahkan kalian berdua di depan petugas KUA juga semua hadirin. Kemudian panjatan doa ayah dan ibu teruntuk kalian berdua.

Pada Hari Acara Pernikahan

Kamu boleh jadi sangat gugup mempersiapkan diri dalam menempuh akad perkawinan sehingga tidak peduli lagi dengan segala persiapan resepsi. Pada saat itu, ayah dan bunda lah yang membatasi kendali sebab bagi mereka, mereka lah yang punya acara.

Orang tua kalian hendak menyandingkan kalian di pelaminan. Biasanya ayah kalian akan menyampaikan kata sambutan. Sedangkan ibu hendak meyakinkan tamu undangan dijamu dengan sebaik mungkin.

Disaat kamu duduk menjumpai dengan banyak tamu undangan, orang tuamu memastikan apabila catering yang kamu pilih dapat memenuhi seluruh keperluan, fotografer yang kamu order telah mengabadikan keseluruhan momen pernikahan, tidak lupa souvenir telah siap pada tempat penyambutan tamu. Mereka juga yang memantau jalannya acara pesta pernikahan sesuai dengan agenda yang sudah direncanakan.

Setelah Hari Upacara Pernikahan

Kalian berdua sekarang sudah sah menjadi sepasang suami istri. Tamu undangan juga telah meninggalkan pesta. Fotografer pun sudah siap untuk mencetak hasil jepretannya. Catering akan segera dibereskan. Dekorasi akan segera dibongkar. Alunan lagu pesta sudah dihentikan. Kini tinggal keluarga yang tetap bersama kalian.

Saat-saat acara pernikahan telah berakhir, mereka pun tetap saja sempat merencanakan uang untuk kalian yang hendak bulan madu. Malahan tahun-tahun berikutnya, mereka masih terus menyokong kehidupan pernikahan kalian baik dengan moril ataupun finansial.

Sebagai renungan, acara pernikahan itu seringnya merupakan momennya orang tua? Fikir ulang lagi terkecuali rasa egomu terlalu kuat untuk tidak mengikutsertakan kedua orang tua. Bagaimanapun pula, mereka tetap ada andil besar dalam masa depan pernikahanmu.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *